Bupati bersama dandim dan kapolres Jember saat mengikuti rakor daring bersama gubernur Jatim, panglima TNI, dan kapolri. (foto : diskominfo / Jatim TIMES)
Bupati bersama dandim dan kapolres Jember saat mengikuti rakor daring bersama gubernur Jatim, panglima TNI, dan kapolri. (foto : diskominfo / Jatim TIMES)

Penanganan percepatan penanganan covid-19 menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan bagi Kabupaten Jember. Bersama dengan 22 kabupaten lainnya di Jawa Timur, kabupaten dengan penduduk hampir 3 juta (2,9 juta lebih) itu berada di zona oranye dalam risiko penyebaran covid-19.

Hal ini disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat menggelar rakor daring bersama dengan panglima TNI dan kapolri bersama sejumlah kepala daerah di Jawa Timur pada Jumat (19/6/2020) sore kemarin.

Baca Juga : 331 Warga Binaan Lapas Jember Dapat Asimilasi, Wabup: Jangan Kembali ke Tempat Ini Lagi

Menyikapi hal ini, Bupati Jember dr Faida MMR pun mengimbau kepada masyarakat Jember bahwa posisi zona oranye ini merupakan pekerjaan rumah bersama. Bukan hanya pemerintah saja, tetapi juga masyarakat Jember pada umumnya, untuk selalu disiplin dalam segala hal, termasuk penerapan protokol kesehatan.

“Paparan dari gubernur Jawa timur sangat jelas. Untuk posisi Kabupaten Jember saat ini berada di zona oranye, tapi belum kuning. Dan ini yang menjadi pekerjaan rumah kita semua. Arahan Ibu Gubernur juga sudah jelas, agar kita semua menata kehidupan untuk lebih aman dalam menyiapkan keadaan new normal,” kata Faida.

Lebih lanjut bupati mengatakan, Jawa Timur mempunyai ciri khas yang harus diimpelementasikan ke daerah maupun ke wilayah terpencil. Ciri khas itu yakni memiliki Kampung Tangguh Semeru, pondok pesantren tangguh, kantor tangguh, asrama tangguh, pasar tangguh, mal tangguh, dan tempat ibadah tangguh.  “Kita tata, tetap jaga jarak, memakai masker, cuci tangan, dan screening rapid test masal,” kata bupati.

Baru-baru ini, Pemerintah Kabupaten Jember memasang wastafel 2.100 wastafel di kelas di sekolah yang berada di lingkungan pondok pesantren. Dua wastafel di tiap kelas ini untuk mendukung sarana pesantren tangguh.

Selain itu, pemerintah bersama TNI, Polri, dan satpol PP menyiapkan pengawas protokol covid-19 di tempat umum dan sarana publik yang mulai diaktifkan untuk kegiatan new normal.

Pengawasan ini untuk memastikan kegiatan tetap berjalan dengan tetap mencegah munculnya klaster baru. “Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak acuh pada protokol covid-19. Untuk selamat, kita harus disiplin bersama-sama,” ujar Faida.

Baca Juga : Jalan Area Jembatan Kedungkandang Ditutup Jika Pembangunan Membahayakan Pengendara

Pemerintah saat ini juga sedang menyiapkan beberapa tempat pariwisata untuk menjadi pariwisata new normal. Penyiapan juga dilakukan di tempat umum, seperti restoran.

Setelah penyiapan tuntas, pada saatnya pemerintah mengeluarkan sertifikat kegiatan new normal. Sertifikat diberikan dengan komitmen mematuhi protokol yang disepakati. Apabila kesepakatan dilanggar, maka kemungkinan akan ditarik kembali. “Kami semua berharap bahwa persiapan ini cukup matang, dan pada saat diizinkan kita semua bisa bergerak bersamasama,” pungkasnya.