Novel Baswedan (Foto:   Fajar Indonesia Network)
Novel Baswedan (Foto: Fajar Indonesia Network)

Kasus penyiraman air panas terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih menjadi bahan perbincangan panas.  

Kabarnya dua terdakwa penyiram air panas Novel, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis hanya dituntut hukuman satu tahun penjara.  

Baca Juga : Penyerang Novel Baswedan Dituntut Jaksa 1 Tahun Penjara, Netizen: Ngelawak Apa Gimana?

Terkait hal itu, Novel Baswedan pun akhirnya angkat bicara.  

Melalui akun Instagram Najwa Shihab, Novel Baswedan memberikan tanggapannya mengenai tuntutan terhadap kedua penyerang air panas.

Video tersebut diunggah Najwa Shihab melalui akun Instagram @najwashihab Sabtu (13/6/2020).  

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

@narasinewsroom Penyidik KPK Novel Baswedan mempertanyakan sikap Presiden Jokowi terkait tuntutan satu tahun penjara terhadap dua terdakwa penyiram air keras ke wajahnya. Menurut Novel, tuntutan JPU menunjukkan betapa compang-campingnya penegakkan hukum di Indonesia. ⁣ ⁣ “Kepada Bapak Presiden apakah masih akan tetap membiarkan? Apakah terus kemudian akan turun untuk membenahi masalah-masalah seperti ini,” kata Novel melalui sebuah rekaman video yang diterima redaksi Narasi Newsroom, Jumat (12/6/2020).⁣ ⁣ Novel mengatakan tuntutan JPU sudah menjadi bukti ketidakberesen aparat hukum dalam menegakkan keadilan. Ia menyinggung janji Jokowi yang sempat ingin menjadikan kasusnya sebagai prioritas. ⁣ ⁣ “Bukankah sejak awal Bapak Presiden memberikan perhatian soal ini? Tapi kemudian mempercayakan kepada aparatur yang bekerja? Bukankah sudah sangat cukup alasan menunjukkan aparatur bekerja dengan bermasalah di sana sini?” ujarnya.⁣ ⁣ Menurut Novel, tuntutan JPU di PN Jakarta Utara semakin membuktikan kecurigaan bahwa sejak awal, proses hukum dalam kasusnya sarat kejanggalan. ⁣ ⁣ Novel mengatakan serangan yang ditujukan kepada dirinya dapat dikategorikan sebagai penganiayaan berat. Ini karena penyerangan itu dilakukan dengan perencanaan, menggunakan air keras, dan menimbulkan luka fisik serius. ⁣ ⁣ “Ini level yang tertinggi. Bayangkan, perbuatan selevel itu, yang paling maksimal itu dituntut satu tahun,” kata Novel.⁣ ⁣ Novel mengajak berbagai pihak kritis terhadap proses hukum yang tidak mencerminkan keadilan. Jika dibiarkan, serangan terhadap upaya pemberatasan korupsi akan semakin lantang digencarkan para koruptor.⁣ ⁣ “Kalau pola seperti ini tidak pernah dikritisi. Tidak pernah diprotes sangat keras dan kemudian presiden membiarkan, saya sangat meyakini bahwa pola demikian akan mudah terjadi ke masyarakat lainnya,” katanya.⁣ ⁣ Produser: Mufti S⁣ Teks: M. Akbar Wijaya Editor Video: Tri Priatmoko⁣ ⁣ #Narasi #Narasinewsroom #News #BeritaTerkini

Sebuah kiriman dibagikan oleh Najwa Shihab (@najwashihab) pada

 

Dalam video berdurasi 10 menit 40 detik itu, Novel juga mempertanyakan hukuman tersebut kepada Presiden Joko Widodo.

Selain itu, Novel mengatakan jika setelah apa yang terjadi, kecurigaan dalam kasus ini disebutnya semakin terlihat.

"Yang pertama memang apa yang saya katakan sebelumnya ada banyak kejanggalan semakin memperlihatkan," ujar Novel.

Di sisi lain, Novel mengatakan jika sejak awal serangan yang ia terima ini menggangu dirinya untuk tetap bekerja.  

Maka dari itu, ia memilih untuk tidak menuntut siapapun.  

"Saya tidak ingin serangan kepada saya ini menggangu perjuangan saya memberantas korupsi ke depan, oleh sebab itu saya memilih jalan untuk bersabar dan tidak menuntut kepada siapapun," ungkapnya.  

Kendati demikian, Novel tetap berharap jika penyerang air panas kepada dirinya ini harus tetap diusut.  

"Walaupun demikian demi kepentingan penegakan hukum, kepentingan keadilan, kepentingan kemanusiaan tentu menuntut agar siapapun penyerang itu harus diungkap adalah suatu hal yang wajib saya lakukan," papar Novel.  

Lalu ia menjelaskan jika hal tersebut dilakukan Bukannya untuk membalas dendam, tetapi hanya untuk menyakinkan kepada dirinya ada yang tidak beres.

Bahkan, Novel menyebut jika penegak hukum di Indonesia compang-camping.  

Lebih lanjut, ia menyebut dengan kondisi hukum yang compang-camping seperti ini justru membuat nama Presiden tampak tidak baik.  

Baca Juga : Novel Baswedan Ternyata Terlibat dalam Penangkapan Buronan KPK Nurhadi dan Mantunya

 

"Oleh karena itu saya berharap hal ini tidak boleh dibiarkan," kata Novel.

Novel lantas mempertanyakan sikap Presiden terkait hukum di Indonesia saat ini.

“Kepada Bapak Presiden apakah masih akan tetap membiarkan? Apakah terus kemudian akan turun untuk membenahi masalah-masalah seperti ini,” kata Novel melalui sebuah rekaman video yang diterima redaksi Narasi Newsroom, Jumat (12/6/2020).⁣

Walhasil unggahan video tersebut mendapat berbagai respons dari warganet.  

Beberapa warganet justru meminta Novel untuk memaafkan penyerang air panas dan mengkritiknya.

@tiasantoso_: "Bapak masih bisa lihat di luar banyak orang yg dijahati to TDK mendapatkan proses hukum yg baik, ditambah banyak orang buta TDK dapat mencari nafkah dengan baik. Apa susahnya untuk memaafkan?????"

@monicaherlin : "Maaf Pak Nov, ini kasus pribadi atau tidak kurang tau. Jangan cari2 kesalahan pak presiden utk saat ini. Beliau ada banyak hal yg lebih penting dan lebih berharga waktunya. Yaitu memikirkan rakyat bangsa ini yg dalam kondisi pandemi Covid 19 ini. Bgaimana bisa mengatasi para penderita, cara mencegah dan yg lebih berat adalah memikirkan rakyat kecil yg kehilangan pekerjaan sampai utk biaya hidup sehari-hari dan utk makan pun masih kesulitan karena kehilangan mata pencaharian. Jadi tolong jangan bawa2 pak presiden dalam kasus ini. Jika ada tidak terima dg hukuman yg diberikan silahkan saja melakukan gugatan ke pengadilan. Terima kasih ."

@mhdfirmansyah78 : "Kalo semua kasus harus ke presiden, gmn beliau mau bangun negeri ini??? Kan udah ada lembaganya..lagian kalo apa2 presiden intervensi nanti malah lebih di nyir2in lagi hehehehehe......"

Di sisi lain, warganet juga mempertanyakan dan membandingkan sikap hukum di Indonesia.

@derrick_bjm : "Sekelas pejabat KPK aja diginiin,gimana kita yg rakyat jelata ya?"

@tohargunawan : "Hahaha presiden kocak, intinya saya ingin sekali pak jokowi tegas kalo gak bisa tegas dan adil lebih baik mundur aja. Daripada nambah dosa jadi pemimpin yang tidak adil..."